Review Film " Kukira Kau Rumah"

Film Kukira Kau Rumah



7 Februari 2022/13.10

 Film yang diproduseri oleh Manoj Punjabi ini sudah di tonton oleh 59.000 penduduk Indonesia. Film yang dibintangi oleh Prilly Latuconsina dan Jourdy Pranata ini dibuat berdasarkan lagu ciptaan grup band Amigdala berjudul Ku Kira Kau Rumah.

 "Kukira kau rumah
Nyatanya kau cuma aku sewa
Dari tubuh seorang perempuan
Yang memintamu untuk pulang"

Dari Lirik lagu ini sebenarnya filmnya sudah jelas. Inti filmnya bukan menceritakan Prilly sebagai penderita Bipolar,tapi lebih bagaimana Jourdy yang berperan sebagai Pram mengembalikan Prilly sebagai Niskala kembali pulang dan bahagia dengan dirinya.

Dari Skala 1-10,aku kasih nilai film ini 5 setengah. Dari segi musik oke, tapi dari jalan cerita menurutku terlalu lama. Feelnya jadi kurang dapet, karena cerita setting di kampus saat pertemuan Niskala dan Pram terlalu lama, seharusnya adegan Niskala emosi dan bermasalahnya yang diperkuat sehingga feelnya sampai ke penonton. Waktu melihat di instagram Prilly banyak penonton yang nangis bahkan sampai nangis kejer, aku jujur gak nangis. Gak tahu gak dapet aja momennya, pas bagian klimaks Pram jatuh ke bawah dan meninggal, kenapa terlalu cepat proses kimaksnya, entah menurut aku sih kurang dapet aja feelnya, jadi gak nangis atau apa aku melihat filmnya, lebih ke mencerna ini maksud jalan ceritanya apa ya, agak absurd.

Jujurly aku gak ngeh kalau waktu Pram mati itu adalah klimaks dari film tersebut, aku baru ngeh waktu dikasih tahu oleh suamiku. Oh gitu, tapi hebat Prilly, ini adalah produksi pertama rumah produksinya dia bersama Umay Shahab, yang ceritanya diambil dari lagu Grup Band Amigdala " Kau Bukan Rumah". Tapi ada beberapa moral yang bagus banget dari film ini nih.

Moral yang didapat dari film ini :

1. Peran Orangtua Penting Banget

Dalam film ini jelas banget kalau Orangtua sangat berpengaruh dengan kehidupan anak kedepannya. Orangtua Niskala yang over protektif membuat Niskala yang sebenarnya ingin menyanyi di panggungjadi kembali terpenjara di rumahnya. Orangtua Niskala merasa, melindungi Niskala adalah memebrikan apapun kebutuhan materi dan fisik Niskala tanpa memperhatikan kebutuhan hati anaknya. Semua di support hanya saja kedua orangtuanya tidak sepakat untuk memahami anaknya.

Ibu Niskala harus main kucing-kucingan dengan ayahnya dalam memberikan kebebasan pada anaknya. Ayah Niskala yang over protektif karena Niskala bipolar menjadi ayah yang seperti tidak bersyukur dengan keberadaan Niskala, berusaha melindungi Niskala tapi terlihat seperti berusaha menyembunyikan Niskala agar seluruh dunia tidak tahu kalau anaknya mengalami Bipolar.

Dari orangtua Niskala pelajaran pentingnya adalah, bukan hanya materi ataupun fisik yang butuh diperhatikan tapi hati harus juga dipahami. Karena banyak orangtua yang tanpa sadar membuat anaknya merasa tidak betah jika bersama mereka, karena mereka lebih banyak menanyakan hal-hal yang tidak seharusnya ditanyakan, tidak memberikan kenyamanan pada anak, tidak menjadi rumah sesungguhnya pada anak.

KOmunikasi orangtua dan anak menjadi kurang lancar, pun sampai anak dewasa seperti tidak adapenyelesaiannya, hanay sebuah pemakluman, dan merasa semuanya baik-baik saja, padahal banyak gunung merapi alias keinginan terpendam yang tak tersampaikan. Tujuannya baik tapi sampainya kadang tidak sesuai. 

Beda lagi dengan orangtua Pram. Ayah Pram sudah meninggal, dia tinggal bersama ibunya yang kerja setiap hari bahkan jarang bertemu Pram, pulang malam pergi pagi.Pram tumbuh menjadi anak yang kesepian, sebenarnya ibu Pram juga kesepian karena belum menerima kepergian ayahnya. Untungnya Pram masih suka mengirimi voice note pada ibunya, berharap ibunya bisa mendengar isi hati  dan seaan-akan ibunya mau mendengarkan cerita Pram dalam kesendiriannya tanpa kehadiran ibunya.
Miris, yang dialami Pram banyak dialami oleh masyarakat di kota besar saat anak tidak bisa bertemu orangtua karena kesibukan mereka. 

Pentingnya quality time dan komunikasi antara anak dan orangtua itu penting sekali. Kompleks ya, tapi begitulah keluarga.

2. Orangtua Harus Satu Visi

Dalam film ini Niskala mencoba melakukan apa yang dia inginkan dan memohon ibunya untuk membantunya keluar dari rumah. Karena ayahnya sangat protektif , maka ibu Niskala dan Niskala sering kucing-kucingan dengan ayahnya.

Hal ini sebenarnya kurang baik, karena akan menimbulkan masalah di kemudian hari seperti yang terjadi dalam film ini, saat ayah niskala menemukan Niskala sedang manggung dengan Pram. Idealnya begitu.

Aku tahu alasan sang Ibu melakukan itu, karena memang ada jenis orang yang sulit sekali diajak berdiskusi kalau sudah maunya, dalam hal ini aku tetap bersepakat lebih baik memberitahu perlahan dan setiap hari. BAtu saja bisa bolong ditetesi air setiap hari, iya kan? 

Diskusi di awal dan beri pengertian terus menerus itu lenbih baik daripada harus main kucing-kucingan dalam memberi ijin pada anak.

3. Kenalkan Anak dengan Apa Yang Boleh dan Apa Yang Tidak Boleh

Terlepas dari gangguan bipolarnya Niskala, ssepertinya orangtua harusnya memberitahu dan membiasakannya pada anak. Alhamdulillah orangtuaku mendidikku dengan baik, sehingga untuk melakukan hal yang tidak seharusnya aku cenderung mempercayai hati nurani aku. JAdi kalau sudah mulai rasa gak neak aku gak lanjut, begitujuga ajaran mereka untuk berdoa sebelum melakukan apapun, sudah otomatis aku lakukan.

Mendidik anak memamng tidak mudah, butuh seumur hidup. Butuh banyak belajar dari banyak referensi, selain itu yang terpenting adalah kerjasama dari ayah dan ibu, jangan pernah merasa lebih tahu dalam hubungan rumah tangga, karena dalam berumah tangga itu adalah belajar bersama. Untuk yang belum menikah tambahin doa dapat jodoh yang bisa diajak bekerjasama dalam kebaikan dan mendidik anak-anak kelak.

4. Pergaulan Anak Perlu Diperhatikan

Mempercayakan anak pada temannya sepenuhnya untuk menjaga anaknya seperti dalam film, sepertinya terlalu naif. Orangtua yang baik menurutku, bisa menjadi orangtua untuk teman anak-anaknya. Bisa berkomunikasi dengan bahasa mereka.

Gap atau jarak yang cukup jauh antara anak dan orangtua membuat mereka malas untuk berusaha memahami kehidupan dan pergaulan anak-anaknya, padahal setiap wktu pergaulan itu berbeda.

Kalau orangtuanya sudah berhasil membuat anaknya bisa membedakan mana yang baik, mana yang buruk gak masalah, tapi ada juga orangtua yang merasa kesulitan diterima anaknya. Ada juga orangtua yang cukup tahu tapi juga mengawasi anaknya, seperti ada acara pesta valentine, anaknya diperbolehkan tapi dia tidak boleh pulang lebih dari jam 22, kalau gak dijemput ke lokasi. banyak cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mengontrol anaknya, asalkan jangan sampai putus perhatian dan pengawasan dengan mempercayakan pada teman-temannya, ini kesalahan besar.

5. Bipolar

Dalam film ini dibahas sedikit soal Bipolar. Niskala terindikasi bipolar karena emosian, gak bisa kontrol walaupun sedang berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Niskala di diagnosa Bipolar karean dia melawan gurunya yang akan menggunting roknya yang pendek, diatas lutut, Niskala tidak terima, merebut gunting dari gurunya dan berusaha menancapkan gunting itu ke Ibu gurunya, alhamdulillah bisa diamankan. 

Orangtuanya membawa dia ke psikolog dan didiagonsa bipolar. Yang pernah aku ikuti seminarnya Bipolar ini adalah gangguan pada sikap seseorang dikarenakan ada niktah di otaknya yang membuat orang-orang yang mengalami bipolar ini berbeda. Jenisnya dan yang terjadi pada penderita bipolar berbeda-beda. Ada yang bisa bergadang tanpa tidur seminggu, tidak bisa mengendalikan emosinya, bisa diam berjam-jam tanpa melakukan apapun, dan butuh minum obat setiap hari untuk mengatur moodnya.

Penderita Bipolar rerata cerdas, mereka bisa menghasilakn karya yang luar biasa dan selalu mendapatkan nilai bagus dan jadi yang terbaik di kelasnya seperti Niskala, tapi mood emosionalnya tidak bisa terkontrol dengan baik.

Kadang yang dibutuhkan oleh penderita Bipolar bukan obat, tapi bagaimana orang sekelilingnya bisa memahami dan membuat dia happy.

Aku jadi bertanya apa bedanya si Bipolar dengan para INSTING?


Boleh sih ini di tonton bareng sama teman-teman atau keluarga supaya bisa membantu komunikasi antar anggota keluarga atau bagaimana cara saling memahami anatar anggota keluarga yang satu dengan yang lain. Selamat berakhir pekan, salam sehat mental.


Komentar

  1. Aku gak tahu apa beda bipolar dengan insting... hmm tapi di sini aku mau ngasi tahu kalo AKKKKK aku kena spoilerrrr. Jadi Pram itu bakal diceritakan meninggal?? Yaudah gapapa sih, sudah biasa juga dapat spoiler. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. bipolar itu katanya ada noktah di otaknya yang ganggu mood penderita,makanya kudu minum obat. Kalo insting itu memutuskan sesuatu dengan lebih emosional. Haha,iya kak gak seru,aku kira bakalan happy ending,haha.

      Hapus
  2. Bipolar ini seperti kasus Marshanda kan ya di kisah nyata?
    Itu seperti memberontak atau gimana sih ya?
    hyaaa bisa dibilang ini filmnya gak greget ya padahal kalau ndak salah gegara film ini mereka cinlok bukan sih? *ehh dibahas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya,marshanda juga bipolar dan wajib minum obat untuk atur moodnya,sama kaya Prily di film ini,tapi film ini tuh kaya mau kasih tahu kalo mereka tuh gak butuh obat,butuh mengapresiasi diri dan dimengerti aja. Gak bisa kontrolemosi dan mood nya. bisa tiba2 bahagia,tiba2 sesih,tiba2 marah dan bisa gak ngelakuin apa2 dalam waktu lama,bahkan gak tdr berhari2 juga bisa. Haha bener nih,kayaknya sih,tapi gak tahu deh bener apa gak,jadi susah bedain aku nih kehidupan nyata prily di drama sama dunia nyata sejak yang dia post sama reza rahardian,hehe

      Hapus
  3. Aku belum nonton nih tapi baca hikmahnya banyak banget ya bisa jadi self reminder buat kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes terutama hubungan anak sama orangtua.

      Hapus
  4. saya belum menontonnya Mba, sepertinya kudet dengan film-film baru. heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. oya nih,gegara penasaran pengen tahu prily nyajiin filmnya kaya gimana,ternyata masih mayan mentah,hehe.

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  6. Daku blom pernah nonton film ini, hanya dengar aja kalau lagi booming ya Mbak? Memang sebagai orang tua kita harus memahami kondisi psikologis anak juga, dan berusaha menciptakan quality time bersama keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyadi bioskop,gak tahu deh masih tayang atau gak,lagu2nya sih enak. Bener banget hubungan ortu dan anak kudu lebih diperbaiki.

      Hapus
  7. Menjadi orang tua memang tidak mudah y sbagaimana yg dijalani ortu Niskala
    Niatny melindungi, tp yg ada malah ga sengaja menyakiti
    Ehm btw, cerita begini memang cocok2an/selera2an ya Mbaa
    Aku pribadi juga mungkin b aja kalau alurny lama hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kadang gak ketemu maunya orangtua sama anak ya,beda bahasa. Bener nih,aku malah penasaran mau nonton pelangi tanpa warna.

      Hapus
  8. Saya baru tahu ada film ini. Dari judulnya kelihatan menarik ya dan banyak pesan moralnya juga. Jadi penasaran nonton film yang diperankan Prilly ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuss tonton di bioskop terdekat,kayaknya lumayan lama nih bertengger di bioskop,hehe. Jadi filmnya berdasarkan lagunya amygdala yyang kau bukan rumah,tapi bagus sih lagunya.

      Hapus
  9. kemarin aku baca film ini lumayan sukses sih ya menjaring penonton yaa. aku baru lihat trailernya aja sih dan baru tahu kalau film ini tentang bipolar. salut deh sama prilly yang masih mudah sudah punya rumah produksi sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih,soalan karya prilly memang patut diacungin jempol,masih muda tapi bisnisnya dimana2 ya kak.

      Hapus
  10. Trailernya banyak muncul di medsos. Banyaknya peminat untuk menonton film ini menurut saya pas banget di tengah maraknya isu kesehatan mental

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes bisa banget ya manfaatin momen,tapi aku gak tahu sih aku nontonnya kurang greget aja,hehe.

      Hapus
  11. Apresiasi buat Prilly yang mengangkat kisah mental health di sini. Dari baca review Mbak jadi tau kekurangan film ini. Maybe mau dibawa romantis, tapi ga dapat inti cerita, bipolar kurang didalami dan klimaks ngga dapat. Gitu kali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes,tujuannya mah bagus,tapi feelnya jadi gak dapet,kelamaan alur di kampusnya yang jadi ngeblur-in masalah intinya kak.

      Hapus
  12. Saya kurang suka nonton film.Tapi karena suka judulfilm ini lagi tranding pensaran juga saya. Alhamdulillah dapat sinopsis dari mbak.. jadi sedikit banyak faham isi filmnya!

    BalasHapus
  13. Belum pernah nonton film ini, tapi udh nton beberapa teasernya , next time klu bxk waktu aq bakal nonton filmnya Prilly

    BalasHapus
  14. Belum pernah nonton tapi banyak yg bilang film ini keren. Jadi pengen nonton jg

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya. Insyaallah saya akan berkunjung balik. Silahkan berkomentar dengan sopan, dan berbagi tips untuk sesama pembaca.