Review Film "I Leave My Heart in Lebanon"

21 Juni 2019/Ruangtamuj17/18.23

Hari ini cukup panas. Setelah melunasi biaya perpanjangan emas di pegadaian rasanya mengantuk luar biasa. Tertidur aku di kamar adikku,terbangun jam 16.25. Gak tahu kenapa langsung aja reflek mau nonton film Indonesia di Youtube. Pilihan jatuh di film "I Leave My Heart in Lebanon".

Sebenarnya aku kaya punya list apa aja yang dikerjakan setiap harinya. Nah harusnya abis bayar ke pegadaian langsung nontin,film apa aja,buatku untuk mempwrkaya rasa dan mengasahku mereview film dengan baik.

Kenapa film ini,jujur aku tuh suka gitu,ada yang samaan gak? Karena sekarang tanggal.21 jadi aku mngurutkan dari film teratas sampai diurutan yang ke 21. Film inilah yang terpilih. Tapi jika pemain dan alurnya gak menyenyuh hati,cari yang lain. Atau malah gak ku tulis reviewnya. Berarti film ini sukses menyentuh hatiku.

Pemainnya hampir semua orang lama dalam dunia akting. Ada Revalina Estemat,Rio Dewanto,Dedy Mizwar dan Baim Wong. Sisanya juga oemain lama tapi aku kurang kenal.

Secara ngefans sama Rio Dewanto,karena suka aja sama akting dan gayanya,hehe. Ini salah satu yang membuatku bertahan sampai habis menonton filmnya.

Film ini tadinya berdasarkan judul kukira lebih ke Neng Diah yang di perankan oleh Revalina Estemat. Ternyata ini lebih mengarah ke hubungan Satria yang diperankan oleh Rio Dewanto dan Rania warga Lebanon yang bisa berbahasa Indonesia.

Gilm besutan sutradara TB. Silalahi,menggambarkan bagaimana pasukan Garuda dari Indonesia menjaga perdamaian di perbatasan Libanon. Banyak aktivitas sosial yang dilakukan oleh pasukan Garuda. Mencari ranjau darat, dan melaporkan banyak temuan2 yang dilaporkan pada tentara Libanon.

Libanon memang relatif aman,tapi perang bisa saja terjadi tiba-tiba. Serangan rudal dari Israel tidak bisa diprediksi. Perang kedua kubu ini sudah dimulai sejak 2006. Awalnya ada tentara hizbullah dari Libanon menyusup ke Israel dan membunuh 3 tentara Israel,sehingga mereka ingin membalaskan dendam. Peristiwa ini kemudian berlanjut dengan serangan Hizbullah ke wilayah Israel yang menghasilkan delapan orang tentara Israel tewas dan melukai lebih dari 20. Israel kemudian membalas dengan Operasi Just Reward ("Balasan yang Adil"), yang lalu namanya diubah menjadi Operasi Change of Direction ("Perubahan Arah"). Serangan balasan ini meliputi tembakan roket yang ditujukan ke arah Libanon dan pengeboman oleh Angkatan Udara Israel (IAF), blokade Udara dan Laut serta beberapa serangan kecil ke dalam wilayah Lebanon selatan oleh tentara darat IDF. Cek Disini.

Serunya menonton film ini adalah aku jadi tahu yang terjafi dengan pasukan Garuda dan kegiatan mereka di Libanon,juga apa yang terjadi di Libanon. Bahasa Indonesia yang digunakan membuat mudah memahami isi film,ealaupun banyak juga menggunakan bahasa Libanon yang diterjemahkan.

Film ini menggunakan sisi humanis dalam menyampaikan pesannya.
Selain ada romantika,ada sisi kemanusiaan untuk membantu seorang anak yang mengalami trauma akibat perang untuk bisa kembali normal.

Salma namanya,saat Satria mengunjungi salah satu sekolah di Libanon,mereka bertemu. Saat anak-anak disekolah mendengarkan penjelasan pasukan garuda dengan antusias. Salma hanya diam menunduk sambil menggambar. Rania,guri yang mengajar di sekolah itu berusaha membuat Salma ikut mendengarkan pelajaran dari pasukan garuda,tapi dia malah berlari. Disinilah kisah dimulai.

Salma ternyata anak dari Rania. Dia mengalami trauma saat berjalan dengan Babanya di pasar. Saat itu,Salma menginginkan sebuah mainan dan tidak mengindahkan babanya untuk segera pulang,di waktu yang bersamaan tentara Israel menyerang dengan serangan udara,banyak rudal dijatuhkan,baba meninggal beserta beberapa orang lainnya,Salma menjafi saksi hidup tragedi ini,dan berhenti bicara karena trauma yang mendalam.

Satria tetiba merasa iba dan bertekad membuat Salma kembali bisa bicara. Satria sudah mengikat janji dengan Neng Diah seorang dokter kandungan yang tinggal di Bandung. Ayahnya setuju atas hubungan ini,karena dia juga seorang prajurit,sementara si Ibu selalu berusaha menggagalkan hubungan Neng Diah dengan Satria. Menjodohkan dengan pengusaha dan banyak lagi

Konflik percintaan lebih kental daripada konflik yang ada di Libanon. Satria berusaha setia,tapi tidak dipungkiri hatinya sudah terbagi dengan Salma dan ibunya Rania. Hubungan Satria dan Neng Diah mulai goyang. Mungkin kalau LDR (Long Distance Relation Ship) seperti ini ya. Sangat dibutuhkan kepercayaan dan komunikasi yang baik,jika tidak selesailah sudah hubungan.

Jadwal menelpon setiap hari itu penting,karena gak ketemu dalam waktu lama,keterbukaan dengan pasangan juga dibutuhkan. Dalam film ini Satria sibuk dengan tugas negara serta Salma dan Rania,wajar jika akhirnya Neng Diah memilih menikah dengan pilihan ibunya.

Jadi tahu kehidupan tentara yang kaku tapi tetap penuh kasih sayang. Akting Rio Dewanto gak bisa dipertanyakan lagi deh. Keren banget apalagi pakai baju tentara. Justru peran Neng Diah nih,agak kurang bisa menterjemahkan rasa yang seharusnya,kalau pemainnya Maudy Kusnaedi mungkin lebih baik.

Tonton aja nih di sini."I Leave My Heart in Lebanon".

4 thumbs buat prajurit yang berjuang membawa nama baik bangsa Indonesia.








Komentar

  1. Ada kesen tersendiri setiap menyaksikan film yg berlatar belakang sejarah. Semoga saya bisa menyaksikan film ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Banget kak Samleinad, kita jadi penasaran untuk lebih tahu sejarah yang pernah terjadi di kota tersebut ya.

      Hapus
  2. Oh ini sempet lihat sekilas diputar pas lebaran hari kedua kalau tidak salah atau pas puasa di tivi. Ternyata ceritanya bagus juga ya mbak? penasaran nonton utuh filmnya, kapan-kapan deh nonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya yah, malah gak nonton yang di tivi mba, bagus lebih ke latar sejarahnya sih bagaimana tentara kita melakukan misi sosial di Libanon, dan jadi ngerasain gimana rasanya jadi keluarga yang ditinggal ke luar negeri dalam misi perdamaian itu, hehe.

      Hapus
  3. Waktu ditayangkan di tivi daku belum sempat nontonnya, kangen lihat revalina dengan aktingnya yang natural

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih revalina aktingnya memang bagus, tapi di film ini kurang greget gitu yah, hehe, jealousnya gak kentara, apa karena banyak aktor kawakan lainnya ya?

      Hapus
  4. Wah baca judulnya kukira film luar, ternyata film Indonesia to
    Kayaknya aku bakalan banyak nyesek nih klo nonton
    Jadi inget kakakku yang dulu sering merenung saat suaminya tugas ke Libanon selama 2 tahun, sampai gak berani nonton berita dia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, bener kan, pas nonton tuh aku langsung empati, ngerasain gimana kalau jadi istrinya pasukan Garuda, atau salah satu saudara mereka. Karena selain misi sosial tapi mereka juga cari 2 daerah yang ada ranjau untuk di amankan dari ranjau yah, kalau ada peluru nyasar pun, siap2, meninggal di Lebanon, huhu. hebat yah kakakmu.

      Hapus
  5. Wow ini cerita based on true events ya, pasukan garuda dulu.

    BalasHapus
  6. Pas baca judul filmnya, saya pikir film hollywood.
    Skrg film Indonesia banyak yang memakai bahasa english utk judulnya

    BalasHapus
  7. memang LDR tidak untuk semua orang #eh. Saya jadi tertarik mau menonton juga nih. Terkadang berbuat baik belum tentu berbuah baik juga ya. Terbukti Satria harus kehilangan Neng Diah karena terlalu fokus menolong Salma.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooh, dan yang terpenting komunikasi nih, udah jauh, jarang ditelpon kan bisa masuk yang lain tuh #eh.

      Hapus
  8. Aku lihat film ini di bioskop, dan tambah berasa menyentuhnya. Dan melihat landscape Lebanon itu keren banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooh, pengen kesana , tapi belum aman euy, suka tetiba dapet kiriamn bom, macam di palestine.

      Hapus
  9. wahh film indonesia ternyata, jadi pengen nonton juga, penasaran..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, bagus banget loh filmnya, lebih tepatnya latar belakangnya sih.

      Hapus
  10. Aku pernah nonton sepintas film ini pas tayang di tv. Nggak nonton full tapi pas liat itu settingnya, pengambilan gambarnya cukup bagus juga. Rio Dewanto emang jadi magnet ya di film ini, apalagi jadi tentara... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahay, penggemarnya juga ya, tos atuh, ku paling suka sama dia, hehe.

      Hapus
  11. Review ini fixed bikin penasaran!! Apalagi temanya nggak pasaran ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nonton deh, apalagi lihat Rio Dewantonya, eh, lebih ke perjuangan pasukan Garuda dan kisah cintanya sih, dan kook bisa segitu lapang dadanya yah tentara, hihi.

      Hapus
  12. Belum nonton film ini sih. Tapi aku jadi ingat anak Pak SBY, Mas Agus Hari Trimurti Yudoyono yang pernah jadi pasukan Garuda di Lebanon.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, nah aku malah baru tahu, berarti mau anak siapa juga gak ngaruh yah pas jadi tentara, kalau sudah berjanji membela negaranya yah harus dilakukan. Sempet sedih pas di adegan pasukan garuda mau ikutan perang, tapi mereka cuma disuruh ngumpet di salah satu bangunan gitu, emnunggu kabar jika dibutuhkan. Pasukan garuda lebih banyak ke sosial membantu anak-anak yang trauma dan menolong yang terluka serta menjaga kesehatan warga Lebanon. Tapi ada juga saat 2 mengamankan jalur dari ranjau darat yang bikin tegang gitu. Duh, tentara ganteng2 dan berhati mulia yak, eh.

      Hapus
  13. Sejujurnya aku tuh jarang banget nonton film, tapi malah jarang deng kebanyakan nonton film yang ramah anak. Tapi baca mengenai review film I Leave My Heart in Lebanon malah penasaran deh. Kita samaan nih mbak sama-sama menyukai Rio Dewanto, nanti malam nonton ah. Ku simpan dulu linknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, sampe ke anaknya dikasih nama Salma, Inspired dari film ini sepertinya.

      Hapus
  14. Ini ternyata film Indonesia ya. Tadinya kukira film barat lho, apalagi judulnya begitu. Penasaran nih mau ikutan nonton juga. Ntar cari ah di Youtube.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada linknya tuh mba, hehe. Iya, judulnya Inggris banget yah, tapi pas lihat aktor dan aktrisnya langsung, ngeh film Indonesia dong ya, hehe.

      Hapus
  15. Lhooo, ini film Infonesia!

    Pas baca judulnya agak ketipu. Pas dibilang aktingnya Revalina agak kaku, aku malah makin penasaran. Soalnya di film Perempuan Berkalung Sorban, dia kece sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau menurutku sih kurang gimana gitu, sebagai seorang wanita yang ditinggal kekasihnya berjuang di Lebanon, coba nanti abis nonton menurut kak Reh gimana.

      Hapus
  16. Iya jadi pengen tahu lebih ya, mengenai sejarahnya

    BalasHapus
  17. Begitu ya ceritanya. Sepertinya menarik juga untuk disimak

    BalasHapus
  18. Screen shoot dong mba adegan yang paling mba senang dari film ini. Soalnya sudah lama juga ini film pasti jauh beda aktingnya ke sekarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya. Insyaallah saya akan berkunjung balik. Silahkan berkomentar dengan sopan, dan berbagi tips untuk sesama pembaca.