Sampai di sini Kisah Kita

 18 April 2021/ 14.44 WIB

"Kamu kemana sih Mike, setiap aku butuh, kamu gak pernah ada."

Kring... suara dering ponsel terdengar, aku melonjak karena berpikir itu Mike. Aku lihat di layar kaca ponselku, ah Narti, teman kuliahku, dengan malas aku angkat telpon dari Narti.

" Olin, ayo berangkat dsennya killer, kalau kamu telat nanti dapat nilai E lagi loh, mau ngulang sampe kapan non?"

" Iya, ini gue udah cakep tinggal berangkat."

"Ya udah, gue udah di bawah nih, cepetan yak."

Narti emang sahabat aku yang paling baik sejak kecil, rumahnya bertetangga. Anaknya baik banget, kadangaku suka lupa kalau dia tuh temen bukan kakak sendiri. Kalau masalah berantem sih kita sering banget, berbagi kamarpun, sering. Gak ada rahasia diantara kita. Semua sedihku sedihnya juga, semua bagahiaku bahagianya juga.

Mike, ya, dia pacar ku yang sedang Long Distannce Relation Ship. Mike lagi kuliah di Paris. Aku mengenal Mike melewati aplikasi dating online. Awalnya aku baru putus dari Qinan. Dia selingkuh sama cewe lain yang masih satu fakultas denganku dan Narti. Kesel luar biasas, karena hubungan kita selama 18 bulan alias 1 tahun 6 bulan berakhir gitu aja, karena Qinan bilang dia merasa lebih nyaman dengan Ria, temen sefakultasku. Sedih, pasti, hampir semalaman aku nangis, eh bahkan ada sebulan atau dua bulan gitu, masih gak terima dengan kenyataan ini. Beberapa kali Qinan minta maaf sama aku karena merasa gak enak, tapi tetap saja selama dia masih terus minta maaf karena merasa bersalah malah makin buka luka aku makin besar. Sampai akhirnya Narti minta Qinan untuk berhenti menemuiku lagi,

Entah ide dari mana Narti bilang sama aku untuk coba aplikasi dating, kali aja ketemu sama yang cocok dan bisa bikin aku kembali bersemangat menjalani hidup. Aku mengiyakan dengan syarat Narti juga membuat akun supaya aku merasa aman aja, karena Narti ikutan, dia mengiyakan. Kami sama-sama membuat akun. Aku langsung ketemu sama Mike, tapi Narti katanya ampai sekarang belum ada yang nyantol.

Hubungan aku dengan Mike awalnya happy nih, banyak ketawa senda gurau dan seneng aja punya pacar yang tinggalnya di Paris, berasa keren, walapun harus menahan rindu karena LDR. Belakangan ini Mike mulai jarang  menghubungiku, katanya sedang sibuk ujian. Usia Mike dan aku beda 3 tahun. Aku semeter satu dan Mike sudah semester 6 di Paris. Aku bisa ngerti sih, untuk beberapa waktu, tapi yang gak bisa di tolerir, chat juga gak dibalas, memangnya sesibuk itu ya?

Saat aku merasa sedih karena Mike tidak menghubungiku,Narti justru lagi happy2nya. Sepanjang berangkat kuliah, pasti deh yang diceritain Suep, orang dari aplikasi dating online. 

" Olin, masa si Suep semalem nelponin gue sampe gue ketiduran so sweet deh, gue jadi bisa mimpi indah."

"hmm, gitu ya."

Aku cuma nanggepin biasa, datar aja, dalam hati gak nyadar apa kalau temannya lagi galau karena Mike gak ada kabar udah sebulan. 

Suatu hari ponsel Narti ketinggalan di kamarku. Gak ada rahasia diantara kita, jadi kita saling tahu password satu sama lain nih. Iseng aku penasaran pengen lihat Suep mukanya kaya gimana, sampe bikin narti penasasran dan suka.

"Hah.." Untung gak aku lempar ponsel milik Narti. Suep itu Mike. Aku coba usap kedua mataku, barangkali salh lihta, maklum lah banyak tugas yang online, bisa jadi mataku bermasalah. Aku coba buka ponselku. Aku cari akun Mike. Bener, mirip banget.  Detak jantungku memburu, seketika aku marah pada Mike dan Narti. Tapi akal sehatku masih bisa menahannya. " Sabar Olin, kita harus crosscheck, dan klarifikasi, jangan asal marah, tarik nafas, lepas."

" Halo, Assalammualaikum, tante , Nartinya ada?"

"Ada nih Olin, naru selesai mandi, sebentar ya."

"Iya, tante, titip pesan aja kalau ponselnya Narti ketinggalan di kamar Olin."

" Makasih ya Olin, nanti tante sampaikan."

Olin menutup ponselnya, dan duduk dipinggir kasur. Olin sudah bisa mulai menata hatinya. " Gimana ya? Nanya dari mana ya? Gimana cara klarifikasinya ya?"

Refleks, Olin menulis chat untuk Mike. " Mike, nama panjang kamu saiapa?" Aku pengenlihat cuaca di Paris deh, kan katanya kosan kamu deket sama menara Eiffel."

Pas banget setelah Olin menulis chat untuk Mike, Narti udah ada di depan dia, wangi khas sabun Detol favorit Narti.

"Salam dulu kali." Kataku.

" Udah, tapi gak dibukain, eh gak dikunci, jadi gue masuk aja. Jangan marah dong, nanti cantiknya hilang loh." Narti seperti biasa menggodaku.

"Eh, nama panjang Suep siapa deh?"

" Mana gue tahu Sueeeeeeeeeeeep, kali."

"Ih, gak usah bercanda deh. Lo udah berapa lama kenal sama Suep?"

"Sebulan yang lalu."

Kok waktunya barengan dengan Mike menghilang ya.

"Narti, gue mau ngaku."

"Kenapa sih jangan serius gitu, aku jadi deg-degan nih."

"Maaf, gue tadi buka ponsel lo tanpa ijin, dan pas banget chat dari Suep muncul. Aku kaget, karena wajah Suep sama Mike sama."

"Ah lo gimana sih, gak sopan banget." Narti spontan mengambil ponselnya paksa dan pergi nyelonong pulang karena kesal.

Tiga hari Narti dan Olin gak saling tegur sapa. Mike mulai kembali chat intens ke Olin, sementara Suep, gak balas chat dari Narti.

Hari keempat, mereka tidak bisa lagi saling menghindar karena bu Tia memberikan tugas berkelompok berdua, Narti dan Olin terdaftar menjadi satu kelompok. Awalnya mereka saling diam satu sama lain, Olin memulai pembicaraan.

"Narti, maafin gue, Mike udah chat lagi sama gue."

"O...." 

Narti jawab dengan singkat, tapi gak lama. " Olin, baikan ya, maafin gue, gue gak mau marahan sama lo. Maafin gue pergi gitu aja bukan nyelesain masalah, bukan cari tahu kebenarannya, maafin aku yah Olin."

Aku memeluk Narti. "Iya aku juga minta maaf uda buka ponsel lo gak ijin dulu."

"Mungkin ini cara Tuhan mau kasih tahu kita yang sebenernya ya Olin." Kata Narti.

Malam ini mereka sepakat untuk sama -sama intens nge-chat Mike dan Ssuep untuk mencari tahu kebenarannya. Apakah sebenarnya mereka anak kembar yang terpisah negara, atau mereka orang yang sama.

Narti menginap di rumah Olin. Olin yang pertama menelpon Mike. Baru deh, saat di Loud speaker itu bukan nomer Paris, tapi masih ponsel Indonesia ada +62nya, narti yang menyadari terlebih dahulu. Nomer ponselny pun sama. 

Ternyata nama panjangnya adalah Suep Michael. Mereka orang yang sama. Suep Michael ini memang tinggal di paris di perapatan Ciamis. Awalnya aku merasa dibohongi oleh Mike, begitupula Narti yang merasa di bohongi oleh Suep. Tapi kenapa kitahars memelihara orang macam itu di hidup kita. Akhirnya kami memutuskan untuk putus dari Suep Michael  dan menghapus aplikasi dating online.

Terimakasih tuhan untuk menyelamatkan persahabatan kami yang hampirsaja hancur karena aplikasi dating online dan laki-laki yang sama. Aku belajar untuk gak mudah percaya pada aplikasi dating online dan fokus untuk mendapatkan nilai cumlaude. Aku mau bikin Qinan nyesel dengan segudang prestasiku yang bikin cowok-cowok nanti ngantri buat dapetin aku.

Aku jadi inget kata Abi sama Ummi. " Kuliah dulu aja Olin sayang, waktunya akan tiba kok saat kamu menemukan pasangan yang tepat. Cukuplah pacaran, sudah dilarang agama cuma bikin capek perasaan dan fisik, iya kan? Kasih bukti sama dunia kalau kamu memang berprestasi, bisa jadi nanti kamu beneran ke Paris dan dapet suami orang Perancis. Hahaha, kalau orang Perapatan Ciamis yang soleh , bisa jadi imam yang baik, juga boleh nih. 

"Makasih yah BAi sama, Ummi, doain Olin ya ketemu pasangan  yang bisa menuntun Olin bahagia dunia akhirat."

"Amiin sayangku, doa abi dan ummi selalu menyertai."

Kadang masa remaja itu dipenuhi ego, rasa ingen mencoba tanpa tahu kedepannya harus gimana, rela berkorban demi hal yang cuma buang - buang waktu, cuma sia-sia. Sejak masalah dengan Mike aku juga tahu arah tujuan hidupku, makasih ya Mike pernah hadir dalam jidupku untuk menyadarkan ku kalau dalam kehidupan itu banyak yang bisa dan harus di capai, gak cuma cinta.

Semoga doa Ummi sama Abi terkabul, aku bisa ketemu orang dari Prapatan Ciamis atau asli orang Perancis. Amiin.

*Tetiba kepikiran cerpen ini abis dengerin cerita dari podcast Teman Tidur tentang LDR dan BUcin."

Day 6 RAmadhan 1442 H

Komentar