Dari Reseller Jadi Produser

 23 Januari 2021/ 04.55

"Dear Diary"

Semoga di tahun 2021 bisnis fashion aku mengalami kemajuan, sehingga bisa membantu penghasilan penjahit, pembordir dan dapat berdonasi pada kaum Dhuafa. Amiin.

Namaku Anisah Widyastuti, aku adalah seorang konten kreator juga penjual online. Sebelum menikah aku adalah seorang guru di sekolah swasta di Jakarta. Setelah menikah aku pindah ke Bandung untuk mengikuti suami.  Di Bandung aku mencoba melamar di beberapa sekolah, ternyata UMRnya berbeda dengan di Jakarta. Sambil menunggu tahun ajaran  baru aku di rumah saja menjadi ibu rumah tangga. Karena memang aktif dan tidak bisa berdiam diri, aku  mengikuti banyak komunitas, dan saat suami pergi dan pekerjaan rumah tangga sudah selesai, aku mengikuti kegiatan komunitas, ada banyak ragam komunitas yang ku ikuti, dari komunitas menulis, fotografi dan kumpulan ibu-ibu yak aktif bergerak di bidang usaha, juga majelis taklim.

Suatu hari tak sengaja aku melihat tulisan di timeline sosial mediaku. Tulisan dari " Nyonya Sepatu" tentang perjalanan dia mengelilingi dunia, sangat menginspirasi. Daripada hanya diam saja di rumah tidak berkarya, aku memulai untuk menulis blog, tulisan pertamaku tentang cara membuat kokedama. Setelah beberapa waktu membuat blog, aku mulai dapat beberapa undangan meliput suatu acara. Acaranya beragam, dan lokasinya juga, ada yang dekat dan ada yang jauh.

Suatu hari saat menghadiri acara blogger yang lumayan jauh, sampai harus naik Bus Damri, terlintas di pikiranku untuk berdikari (Berdiri di kaki Sendiri). Awalnya untuk membunuh waktu saat di DAMRI ada pesan masuk dari website " Hijab q" yang menawarkan kerjasama menjadi reseller. Entah kenapa tawaran itu sangat menggiurkan. Saat di awal pernikahan, pastinya banyak yang dibutuhkan, ya kan? Aku tertarik denga sistem yang ditawarkan dan produksinya yang bagus. 

Langsung aku putar otak dalam bus Damri ini, memikirkan apa nama yang tepat untuk bisnis baruku ini. Browsing di internet dan pilihanku jatuh pada kata HENNA yang artinya di berkahi. Aku berdiskusi dengan suamiku soalan ideku ini, dia mengusulkan untuk membuat akun khusus selain akun utama yang aku miliki di instagram. Praktis selain menghadiri event, aku juga menjual perlengkapan muslimah secara online. Lumayan jadi ada rutinitas kesibukan yang menambah isi dompet.

Bisnisku ini sudah berjalan 3 tahun sejak 2018. Pembeliannya lumayan, pembeli terbanyak berasal dari luar pulau, mereka tidak mempermasalahkan ongkos kirimnya, beda dengan sesama pulau yang terkadang hanya bertanya kemudian pergi menghilang. Beda pulau beda karakter.

Aku mulai kewalahan membagi waktu menjadi konten kreator dan jualan online sebagai reseller yang harus upload foto sering-sering guna menggaet pelanggan. Mulai terpikir untuk mempekerjakan orang lain untuk menjadi admin online shopku. Teman satu komunitasku, menawarkan anaknya untuk menjadi admin di online shopku. Namanya Fauziyah, dia masih kuliah di tingkat 5. Awalnya semua berjalan lancar, tapi setelah dua minggu postingannya diinstagram yang sudah diatur olehku mulai berantakan, dia tidak melakukan tugasnya dengan baik, katanya banyak urusan kuliah, dan entah kenapa disaat yang bersamaan, saat aku berusaha menggaji orang lain, omsetku turun. Omsetku yang biasanya 500 ribu sampai 1 juta perbulan hanya setengahnya. 

Aku diskusi dengan suamiku, menurut beliau, sebaiknya kerjakan saja sendiri atur saja waktu antara event, menjadi konten kreator dan berjualan online. Kalau hasilnya sudah besar barulah menggaji pegawai. 

Akhir 2019 aku pindah ke depok, suamiku mendapatkan pekerjaan di Depok. Sedih sih berpisah dengan komunitas teman-teman di Bandung, tapi aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik. Di Depok aku mulai terpikir untuk menjadi produser. Aku tahu pasti tantangannya akan lebih berat, apalagi jika merugi atau barangnya tidak laku, akan bayak stok yang menumpuk. Saat menjadi reseller biasanya hanya dropship barang, tapi menjadi produser berarti memproduksi barang dalam jumlah banyak dan ada persediaan sehingga jika ada yang mau membeli kita sudah ready.

Aku ingin sekali memiliki usaha yang seutuhnya dan ada merk Hennanya. Datanglah musim pandemi, semua orang berlomba-lomba membeli masker kesehatan, tapi awal pandemi, masker kesehatan termasuk barang langka dan mahal. Masker ini lebih banyak digunakan oleh paramedis. Ada himbauan pemerintah bahwa masyarakat sipil sebaiknya menggunakan masker kain dengan 3 lapis bahan supaya masker kesehatan dapat digunakan oleh paramedis.

Wah langsung deh aku kepikiran untuk membuat masker nih. Gayung bersambut, semesta menjawab, dekat rumahku ada toko kain, harganya lumayan murah dan motifnya unik-unik. Mulai deh gerilya mencari penjahitnya. Aku sebenarnya bisa dan paham konsep menjahit, tetapi hasilnya tidak maksimal, masih kurang rapi. Voila aku bertemu dengan Bu Maya penjahit dekat rumah yang humble nih, hasil jahitannya bagus dan rapi, murah juga. Sayangnya pengerjaannya lama, karena dia juga mengurus keluarganya. Masker kainnya baru selesai 1-2 minggu. Awal pertama kali produksi masker adalah yang satu lapis, rempel dan bertali.  

Masker kain buatan bu Maya


Aku ingin mengembangkan masker kainku menjadi tiga lapis, aku mencari penjahit lainnya, bertemulah aku dengan Bang Alex. Jahitannya rapi, aku mencoba membuat masker dua lapis, polanya kurang sesuai tapi masih tetap laku keras. Saat itu masker produksiku belum menggunakan merek, masih polosan. 

Masih model rempel satu lapis nih,talinya dibuat dari bahan kain.

Suatu hari Ibu meminta aku untuk mengobras baju Koko Bapak, aku dan suami mengobrasnya di pasar dekat rumah. Ternyata penjahitnya sedang menjahit masker kain dalam jumlah banyak. Aku langsung bertanya biaya jahit dan pola bisa dari kita, kain dari kita atau gak, detail aku bertanya. Terjalin keputusan dan akhirnya kami bekerjasama, desainnya cukup memuaskan sesuai dengan keinginanku, walaupun menurut orang-orang seperti paruh burung. Tapi orang bisa bernafass lega saat menggunakan masker ku. Selain itu riasan lipstik juga aman dan bahannya lembut.

Mulai menggunakan merk bordir dan memproduksi masker kain modis untuk ke acara pesta.

Menggunakan merek sablon.

Masker aku di beri merek dengan bordiran dari Mang Yana yang lapaknya di sebelah bang Roni. Karena pernah mencoba menggunakan merek dari sablon, tapi saat di cuci hilang, makanya aku pikir dengan di bordir akan menjadi lebih baik, dan awet.

Sekarang masker kesehatan harganya sudah kembali normal, sehingga masker kainku kurang diminati. Tapi aku sudah menikmati menjadi produser, aku berpikir untuk membuat produksi daster, hijab dan mukena sendiri. Kenapa daster? Karena kondisi di rumah saja membuat orang ingin tetap bergaya di depan suaminya kan? tapi tetap nyaman dalam beraktifitas. Kenapa hijab? Karena semua muslimah akan menggunakan hijab dalam kesehariannya, selain itu yang belum menggunakan hijab akan memakai hijab di acara tertentu. Kenapa mukena? Karena semua muslimah akan menggunakan mukena dalam mendirikan sholatnya,

Semoga bisnisku bisa membantu perekoniomian penjahit, pem bordir dan bisa membantu berdonasi untuk kaum dhuafa. Amiin. Karena tujuanku ini aku mengikuti kompetisi Modal pintar yang diadakan oleh SisterNetdan Bank OCBC.




Komentar

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya. Insyaallah saya akan berkunjung balik. Silahkan berkomentar dengan sopan, dan berbagi tips untuk sesama pembaca.